Rabu, 29 Januari 2014
Jangan mengaku Anda adalah anak OI kalau tidak
mengetahui siapa itu iwan fals, bagaimana sejarah kehidupan iwan fals,
serta biografi lengkap iwan fals. Iwan Fals yang mempunyai nama
Lengkap Virgiawan Listanto adalah salah satu penyanyi legendaris Indonesia yang
beraliran balada dan country. Ia lahir di jakarta, kurang lebih 49 tahun silam
atau tepatnya pada tanggal 3 September 1961. Kharisma seorang Iwan Fals sangat
besar. Dia sangat dipuja oleh kaum ‘akar rumput’. Kesederhanaannya menjadi
panutan para penggemarnya yang tersebar diseluruh nusantara.
Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan
sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia
atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktivitas para
penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang OI dapat ditemui
setiap penjuru nusantara dan beberapa bahkan sampai ke manca negara.
Mayoritas lagu-lagu Iwan memotret suasana sosial kehidupan
Indonesia di akhir tahun 1970-an hingga sekarang, serta kehidupan dunia pada
umumnya, dan kehidupan itu sendiri, ternyata juga pernah aktif dalam kegiatan
olahraga sertapernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate
Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya,
STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa
tabloid olah raga. Woowww Sungguh LUUUUUARRR BIASA “Bang Iwan”.
Biografi Iwan Fals
Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kemudian ikut
saudaranya di Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Bakat musiknya makin terasah
ketika ia berusia 13 tahun, di mana Iwan banyak menghabiskan waktunya dengan
mengamen di Bandung. Bermain gitar dilakukannya sejak masih muda bahkan ia
mengamen untuk melatih kemampuannya bergitar dan mencipta lagu. Ketika di SMP,
Iwan menjadi gitaris dalam paduan suara sekolah.
Selanjutnya, datang ajakan untuk mengadu nasib di Jakarta
dari seorang produser. Ia lalu menjual sepeda motornya untuk biaya membuat
master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi,
Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul, namun album tersebut gagal di
pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen. Album ini sekarang
menjadi buruan para kolektor serta fans fanatik Iwan Fals.
Setelah dapat juara di festival musik country, Iwan ikut
festival lagu humor. Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan
sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC
Records, tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja.
Sampai akhirnya, perjalanan Iwan bekerja sama dengan Musica Studio. Sebelum ke
Musica, Iwan sudah rekaman sekitar 4-5 album. Di Musica, barulah lagu-lagu Iwan
digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani oleh
Willy Soemantri.
Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia
mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M.
Album Sarjana Muda ternyata banyak diminati dan Iwan mulai mendapatkan berbagai
tawaran untuk bernyanyi. Ia kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987.
Saat acara Manasuka Siaran Niaga disiarkan di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat
ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan
mengamen langsung dihentikan.
Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang
dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya
dianggap dapat memancing kerusuhan. Pada awal kariernya, Iwan Fals banyak membuat
lagu yang bertema kritikan pada pemerintah. Beberapa lagu itu bahkan bisa
dikategorikan terlalu keras pada masanya, sehingga perusahaan rekaman yang
memayungi Iwan Fals enggan atau lebih tepatnya tidak berani memasukkan
lagu-lagu tersebut dalam album untuk dijual bebas. Belakangan Iwan Fals juga
mengakui kalau pada saat itu dia sendiri juga tidak tertarik untuk memasukkan
lagu-lagu ini ke dalam album.
Rekaman lagu-lagu yang tidak dipasarkan tersebut kemudian
sempat diputar di sebuah stasiun radio yang sekarang sudah tidak mengudara
lagi. Iwan Fals juga pernah menyanyikan lagu-lagu tersebut dalam beberapa
konser musik, yang mengakibatkan dia berulang kali harus berurusan dengan pihak
keamanan dengan alasan lirik lagu yang dinyanyikan dapat mengganggu stabilitas
negara. Beberapa konser musiknya pada tahun 80-an juga sempat disabotase dengan
cara memadamkan aliran listrik dan pernah juga dibubarkan secara paksa hanya
karena Iwan Fals membawakan lirik lagu yang menyindir penguasa saat itu.
Pada bulan April tahun 1984 Iwan Fals harus berurusan dengan
aparat keamanan dan sempat ditahan dan diinterogasi selama 2 minggu gara-gara
menyanyikan lirik lagu Demokrasi Nasi dan Pola Sederhana juga Mbak Tini pada
sebuah konser di Pekanbaru. Sejak kejadian itu, Iwan Fals dan keluarganya
sering mendapatkan teror. Hanya segelintir fans fanatik Iwan Fals yang masih
menyimpan rekaman lagu-lagu ini, dan sekarang menjadi koleksi yang sangat
berharga.
Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk
SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan
Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karier Iwan Fals terus menanjak
ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang didukung penuh oleh
pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang
dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah
musik Indonesia.
Setelah kontrak dengan SWAMI yang menghasilkan dua album
(SWAMI dan SWAMI II) berakhir, dan di sela Kantata (yang menghasilkan Kantata
Takwa dan Kantata Samsara), Iwan Fals masih meluncurkan album-album solo maupun
bersama kelompok seperti album Dalbo yang dikerjakan bersama sebagian mantan
personil SWAMI.
Sejak meluncurnya album Suara Hati pada 2002, Iwan Fals
telah memiliki kelompok musisi pengiring yang tetap dan selalu menyertai dalam
setiap pengerjaan album maupun konser. Menariknya, dalam seluruh alat musik
yang digunakan baik oleh Iwan fals maupun bandnya pada setiap penampilan di
depan publik tidak pernah terlihat merek maupun logo. Seluruh identitas
tersebut selalu ditutupi atau dihilangkan. Pada panggung yang menjadi dunianya,
Iwan Fals tidak pernah mengizinkan ada logo atau tulisan sponsor terpampang
untuk menjaga idealismenya yang tidak mau dianggap menjadi wakil dari produk
tertentu.
Keluarga Iwan Fals
Iwan lahir dari Lies (ibu) dan mempunyai ayah Haryoso
almarhum (kolonel Anumerta). Iwan menikahi Rosana (Mbak Yos) dan mempunyai anak
Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Bassae, dan Raya Rambu
Rabbani.
Galang mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang musik.
Walaupun demikian, musik yang ia bawakan berbeda dengan yang telah menjadi
trademark ayahnya. Galang kemudian menjadi gitaris kelompok Bunga dan sempat
merilis satu album perdana menjelang kematiannya.
Nama Galang juga dijadikan salah satu lagu Iwan, berjudul
Galang Rambu Anarki pada album Opini, yang bercerita tentang kegelisahan orang
tua menghadapi kenaikan harga-harga barang sebagai imbas dari kenaikan harga
BBM pada awal tahun 1982 yaitu pada hari kelahiran Galang (1 Januari 1982).
Nama Cikal sebagai putri kedua juga diabadikan sebagai judul
album dan judul lagu Iwan Fals yang terbit tahun 1991. Sebelumnya Cikal juga pernah
dibuatkan lagu dengan judul Anisa pada tahun 1986. Rencananya lagu ini
dimasukkan dalam album Aku Sayang Kamu, namun dibatalkan. Lirik lagu ini cukup
kritis sehingga perusahaan rekaman batal menyertakannya. Pada cover album Aku
Sayang Kamu terutama cetakan awal, pada bagian penata musik masih tertulis kata
Anissa.
Galang Rambu Anarki meninggal pada bulan April 1997 secara
mendadak yang membuat aktivitas bermusik Iwan Fals sempat vakum selama beberapa
tahun. Galang dimakamkan di pekarangan rumah Iwan Fals di desa Leuwinanggung,
Cimanggis, Depok Jawa Barat. Sepeninggal Galang, Iwan sering menyibukkan diri
dengan melukis dan berlatih bela diri.
Pada tahun 2002 Iwan mulai aktif lagi membuat album setelah
sekian lama menyendiri dengan munculnya album Suara Hati yang didalamnya
terdapat lagu Hadapi Saja yang bercerita tentang kematian Galang Rambu Anarki.
Pada lagu ini istri Iwan Fals (Yos) juga ikut menyumbangkan suaranya.
Sejak meninggalnya Galang Rambu Anarki, warna dan gaya
bermusik Iwan Fals terasa berbeda. Dia tidak segarang dan seliar dahulu.
Lirik-lirik lagunya terkesan lebih dewasa dan puitis. Iwan Fals juga sempat
membawakan lagu-lagu bertema cinta baik karangannya sendiri maupun dari orang
lain.
Pada tanggal 22 Januari 2003, Iwan Fals dianugrahi seorang
anak lelaki yang diberi nama Raya Rambu Rabbani. Kelahiran putra ketiganya ini
seakan menjadi pengganti almarhum Galang Rambu Anarki dan banyak memberi
inspirasi dalam dunia musik seorang Iwan Fals.
Di luar musik dan lirik, penampilan Iwan Fals juga berubah
total. Saat putra pertamanya meninggal dunia Iwan Fals mencukur habis rambut
panjangnya hingga gundul. Sekarang dia berpenampilan lebih bersahaja, rambut
berpotongan rapi disisir juga kumis dan jenggot yang dihilangkan. Dari sisi
pakaian, dia lebih sering menggunakan kemeja yang dimasukkan pada setiap
kesempatan tampil di depan publik, sangat jauh berbeda dengan penampilannya
dahulu yang lebih sering memakai kaus oblong bahkan bertelanjang dada dengan
rambut panjang tidak teratur dan kumis tebal.
Peranan istrinya juga menjadi penting sejak putra pertamanya
tiada. Rosana menjadi manajer pribadi Iwan Fals yang mengatur segala jadwal
kegiatan dan kontrak. Dengan adanya Iwan Fals Manajemen (IFM), Fals lebih
profesional dalam berkarier.
KETIKA Galang lahir pada 1 Januari 1982 si bapak, yang
perasaannya campur-aduk karena pertama kali merasakan diri jadi ayah-merasa
harus bertanggung jawab, merasa mencintai, heran, bahagia, bangga punya
keturunan dan sebagainya-menciptakan lagu berjudul Galang Rambu Anarki. Lagunya
cukup terkenal dan masuk album Opini (1982).
Galang tumbuh jadi anak cerdas. Endi Aras sering main
tembak-tembakan dengan Galang. Muhamad Ma’mun punya karakter rekaan yang sering
diceritakannya pada Galang. Namanya “Gringgrong”-seorang jagoan “kayak Tarzan”
yang bisa mengalahkan harimau, naik kuda, dan mengalahkan musuh. Tiap kali
Ma’mun datang menginap, cerita Gringgong ditagih Galang. Di Condet hanya ada
dua kamar, “Kalau saya nginep, Galang tidur sama bapaknya,” kata Ma’mun.
Ketika beranjak remaja, Ma’mun melihat Galang badannya
bagus, berbentuk. Galang bukan tipe anak hura-hura. Kalau minta uang paling
buat bayar taksi pergi ke sekolah. “Untuk beli-beli dia nggak punya uang,” kata
Iwan. Galang juga besar tekadnya. Suatu saat Galang, yang belum bisa menyetir
mobil dan tak punya surat izin mengemudi, ingin bisa mengendarai mobil.
Solusinya? Galang mengendarai mobil sekaligus dari Jakarta ke Pulau Bali!
Tapi kekerasan Galang suatu hari membuat Iwan angkat tangan.
Dia datang ke Ma’mun, “Mas gimana nih, Galang nggak mau sekolah lagi?” “Terus
maunya apa?” “Embuh, main musik atau buka bengkel.”
Galang memutuskan keluar dari SMP Pembangunan Jaya di
Bintaro, yang terletak dekat rumah dan termasuk salah satu sekolah mahal di
Jakarta. Iwan sering pindah rumah dan waktu itu tinggal di Bintaro. Hingga
akhirnya di Leuwinanggung, ia sudah pindah rumah 12 kali. Usia Galang 14 tahun
dan sedang memproduksi rekamannya yang pertama bersama kelompok Bunga. Iwan tak
bisa berbuat banyak dan membiarkan Galang putus sekolah.
Galang pernah juga kabur meninggalkan rumah. Dalam pelarian,
menurut Iwan, Galang melihat poster dan foto papanya di mana-mana. “Dia merasa
diawasi,” kata Iwan. Galang merasa tak bisa lari dan kembali ke rumah. Suatu
saat Iwan curiga. Iwan bertanya, “Lang, lu pakai ya?” “Mau apa tahu, Pa?” kata
Galang, ditirukan Iwan.
Iwan menganggap dirinya sudah insyaf. Kok Galang yang
memakai? Iwan merasa Galang meniru papanya. Mula-mula rokok lalu obat. Endi
Aras mengatakan Iwan agak teledor kalau menyimpan ganja atau merokok.
Galang menerangkan dia hanya mencoba. Rasanya pusing serta
teler. “Ya udah, kalau sudah tahu ya udah,” kata Iwan. Kebetulan Galang punya
pacar, seorang cewek gaul bernama Ine Febrianti, yang juga keberatan Galang
memakai obat-obatan. Inne mendorong Galang tak memakai obat-obatan. “Dia bukan
pemakai. Dia sangat cinta pada keluarganya. Kontrol diri sangat kuat,” kata
Iwan.
Kamis malam 24 April 1997 sekitar pukul 11:00 malam Galang
pulang ke rumah, setelah latihan main band. Dia makan lalu pamit pada papanya
mau tidur. Mamanya lagi tak enak badan. Iwan masih mendengar Galang
telepon-teleponan. Subuh sekitar 4:30 Kelly Bayu Saputra, sepupu Galang yang
tinggal di sana, mau mengambil sisir di kamar Galang. Kelly memanggil Galang
tapi tak bangun. Kelly mendekati Galang dan menggoyang-goyangkan badannya.
Lemas. Kelly kaget. Dia mengetuk kamar Yos. Yos bangun dan menemukan Galang
badannya dingin. “Saya turun ke bawah, panggil Iwan,” kata Yos.
Keluarga heboh. Iwan terpukul sekali. Pagi itu
saudara-saudaranya datang. Mereka menghubungi semua kerabat dan teman. Leo
Listianto, adik Iwan, menelepon Ma’mun di Karawaci. “Saya masih tidur, antara
percaya, tidak percaya,” kata Ma’mun. Sepuluh menit kemudian, Ma’mun ditelepon
Dyah Retno Wulan, adiknya Leo, biasa dipanggil Lala, juga memberitahu Galang
meninggal. “Saya bengong,” kata Ma’mun. Dia segera menuju Bintaro.
Fidiana menerima telepon dari Ari Ayunir. Fidiana
membangunkan Iwang Noorsaid, suaminya, “Wang, ini ada berita duka … Galang
meninggal.” Mereka agak tak percaya karena beberapa hari sebelumnya pasangan
ini bertamu ke Bintaro dan melihat Galang mondar-mandir. Mereka mencoba telepon
ke Bintaro tapi nada sibuk. Mereka menelepon Herri Buchaeri, Endi Aras, dan
beberapa rekan lain sebelum naik mobil ke Bintaro.
Endi Aras mengatakan, “Pagi-pagi aku dapat kabar. Iwang
Noorsaid yang telepon.” Endi sampai di Bintaro sekitar pukul 5:30. “Aku ikut
memandikan (jasad Galang),” kata Endi. Ketika Iwan memandikan jasad anaknya,
dia berujar berkali-kali, “Galang, kamu sudah selesai, Papa yang belum … Lang,
kamu sudah selesai, Papa yang belum …..” Kalimat itu diucapkan Iwan
berkali-kali. Ma’mun dirangkul Iwan. “Jagain Mas, jagain anak-anak Mas,” kata
Iwan, seakan-akan hendak mengatakan ia sendiri kurang menjaga anaknya dengan baik.
“Yos histeris, menangis ketika saya peluk. ‘Aduh, anak saya
sudah meninggal mendahului saya,’” kata Fidiana. Iwan tak banyak bicara,
menunduk, menangis, dan hanya bilang “terima kasih” kepada tamu-tamu. “Kepada
kita dia nggak ngomong sama sekali,” kata Fidiana.
Galang dimakamkan di mana? Ada usul pemakaman Tanah Kusir
dekat Bintaro. Iwan emosional, ingin memakamkan Galang di rumahnya. Bagaimana
aturannya? Iwan pun memutuskan menelepon kyai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur
dari Nahdlatul Ulama. Saat itu Gus Dur belum jadi presiden Indonesia. Iwan
menganggap Gus Dur “guru mengaji” yang terbuka, tempat orang bertanya. Gus Dur
mengerti hukum Islam maupun hukum pemerintahan.
Gus Dur dalam telepon menjelaskan dalam aturan Islam
diperbolehkan memakamkan jenazah di rumah. Pemakaman bergantung wasiat almarhum
atau keinginan keluarga. Tapi di Jakarta tak bisa memakamkan orang di rumah
sendiri karena keterbatasan lahan. “Di Jakarta nggak boleh … kalau Bogor
boleh.”
Kata “Bogor” itu mengingatkan Iwan pada Leuwinanggung.
Keluarga pun memutuskan Galang dimakamkan di Leuwinanggung.
Menurut Harun Zakaria, seorang tetangga Iwan di
Leuwinanggung, yang juga menjaga kebun Iwan, dia dihubungi Lies Suudiyah,
ibunda Iwan. “Bu Lies datang ke sini. Dia bilang, ‘Cucunda meninggal. Tolong di
sini kuburannya,” kata Harun.
Jenazah disemayamkan dulu di masjid Bintaro. Sekitar 2.000
jamaah salat Jumat di masjid itu ikut menyembahyangkan Galang. Banyak seniman,
tetangga, kenalan Iwan, dan Yos datang menyampaikan duka. Setiawan Djody, W.S.
Rendra, Ayu Ayunir, Jalu, Totok Tewel, Jockie Suryoprayogo, juga tampak di
sana. Spekulasi wartawan maupun pengunjung memunculkan gosip bahwa dada Galang
kelihatan biru. Galang digosipkan overdosis. Ini merambat ke mana-mana karena
tubuh Galang kurus ceking.
Orang sebenarnya tak tahu persis penyebab kematian Galang
karena tak ada otopsi terhadap jenazahnya. Kawan-kawan Iwan memilih diam.
Mereka merasa tak nyaman mengecek spekulasi overdosis kepada orangtua yang
berduka. Kresnowati pernah diberitahu Yos bahwa penyebab kematian Galang
penyakit asma. Fidiana mengatakan beberapa hari sebelum kematian, Yos
mengatakan Galang lagi sakit-sakitan. Iwan mengatakan pada saya, fisik Galang
“agak lemah” dan “Galang lemah di pencernaan.”
Pendidikan Iwan Fals
SMPN 5 Bandung
SMAK BPK Bandung
STP (Sekolah Tinggi Publisistik, sekarang IISIP)
Institut Kesenian Jakarta (IKJ)
Label: Iwan Fals
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar